Empat Pertanyaan yang Tidak Memerlukan Jawaban: QS. Al-Ghasyiyah [88:17-20] sebagai Kurikulum Ilahi tentang Kesadaran Kosmik
Suatu hari, seorang hakim bernama Syuraih Al-Qadi — salah satu ahli hukum paling tajam di generasi tabi’in — berdiri di hadapan murid-muridnya dan mengucapkan sebuah kalimat yang tidak terdengar seperti pelajaran fiqih biasa: “Marilah kita keluar untuk melihat unta bagaimana ia diciptakan, dan bagaimana langit ditinggikan.” Kalimat itu, yang Ibn Katsir rekam dalam tafsirnya, adalah salah satu pernyataan paling indah tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang berilmu: bukan hanya duduk di dalam ruangan dengan kitab-kitab di sekelilingnya, melainkan keluar dan melihat — melihat dengan mata yang sudah dididik untuk menangkap apa yang tersembunyi di balik apa yang tampak. Empat ayat dalam QS. Al-Ghasyiyah [88:17-20] yang turun di Makkah adalah undangan yang sama — undangan yang disampaikan bukan dalam bentuk perintah yang keras melainkan dalam bentuk pertanyaan yang lembut namun dalam: affalā yanzhurūn — maka tidakkah mereka memperhatikan? Empat pertanyaan tentang unta, langit, gunung, dan bumi. Empat pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban verbal karena jawabannya sudah terhampar di mana-mana — yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk berhenti, menatap, dan membiarkan apa yang dilihat itu berbicara kepada hati yang mau mendengarkan. Tulisan ini berargumen bahwa keempat ayat itu bukan sekadar argumen kosmologis tentang kebesaran Allah — ia adalah kurikulum ilahi tentang cara membangun kesadaran yang dalam, dan bahwa metode pedagogis yang ada di dalamnya adalah salah satu yang paling relevan untuk pendidikan Islam di era ketika manusia semakin banyak melihat namun semakin jarang memperhatikan.
Kata kunci yang membuka seluruh rangkaian empat ayat ini adalah yanzhurūn — dari akar kata nazhar yang dalam bahasa Arab tidak sekadar berarti “melihat” secara fisik, melainkan melihat dengan kesadaran, melihat dengan tujuan mengambil pelajaran, melihat dengan hati yang turut hadir bersama mata. Ini bukan sekadar perbedaan semantik yang kecil; ia adalah perbedaan yang menentukan seluruh epistemologi ayat ini. Al-Qur’an tidak meminta manusia untuk sekadar membuka matanya — mata yang terbuka namun hati yang tertutup tidak akan menangkap apapun yang Allah hadirkan di hadapannya. Yang diminta adalah nazhar yang utuh: perhatian yang melibatkan akal, hati, dan indera dalam satu gerakan menuju pemahaman yang melampaui permukaan. Dalam tradisi tasawuf, kemampuan ini disebut sebagai al-basīrah — mata batin yang mampu membaca tanda-tanda (āyāt) Allah yang tertulis bukan hanya dalam kitab suci melainkan dalam seluruh hamparan alam semesta. Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm Al-Dīn menegaskan bahwa nazhar yang dimaksud Al-Qur’an adalah nazhar al-i’tibār — melihat untuk mengambil pelajaran, bukan nazhar al-istimtā’ — melihat untuk sekadar menikmati pemandangan (Al-Ghazali, dalam Faris, 2021). Perbedaan antara dua jenis melihat itu menentukan apakah seseorang pulang dari perjalanannya sebagai orang yang berubah atau sebagai orang yang hanya mendapat koleksi foto baru di gawainya.
Pilihan Allah untuk memulai rangkaian empat ayat ini dengan unta — bukan dengan bintang yang megah, bukan dengan lautan yang dalam, bukan dengan fenomena kosmik yang dramatis — adalah pilihan pedagogis yang sangat disengaja dan sangat cerdas. Ibn Katsir menjelaskan bahwa unta disebutkan pertama karena ia adalah makhluk yang paling akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Arab saat itu — ia bukan sesuatu yang eksotis atau jauh, melainkan sesuatu yang ada di depan mereka setiap hari. Dan justru di situlah pelajaran terdalamnya: bahwa keajaiban Allah tidak hanya berada di tempat-tempat yang jauh dan dramatis — ia hadir di dalam makhluk yang paling biasa dan paling sering kita lewati tanpa menolehkan kepala. Unta yang mampu bertahan tanpa air selama berminggu-minggu di padang pasir, yang memiliki punuk sebagai cadangan energi yang luar biasa canggih, yang tubuhnya dirancang untuk bertahan di suhu ekstrem yang bisa membunuh makhluk lain dalam hitungan jam — adalah sistem biologi yang hingga hari ini membuat para ilmuwan terkagum-kagum. Namun orang Arab yang setiap hari melihat unta dan tidak pernah memperhatikannya dengan nazhar al-i’tibār akan melewati keajaiban itu tanpa pernah merasakan getarannya. Inilah yang Allah tanyakan: bukan “apakah kamu melihat unta?” — tentu saja mereka melihatnya setiap hari — melainkan “apakah kamu memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” Pertanyaan itu masih sama relevannya hari ini untuk manusia yang setiap hari melihat pohon, burung, awan, dan bunga tanpa pernah sekalipun berhenti cukup lama untuk bertanya: kaifa khuliqat — bagaimana ini diciptakan?
Dari unta yang dekat dan akrab, Allah kemudian mengangkat pandangan ke langit yang tinggi dan jauh — wa ilā al-samā’i kayfa rufi’at, dan langit, bagaimana ditinggikan? Langit yang berdiri tanpa tiang, yang luasnya melampaui kapasitas imajinasi manusia, yang di dalamnya bergerak biliaran benda langit dalam orbit yang begitu presisi sehingga satu deviasi kecil saja dari jalurnya akan mengakibatkan tabrakan kosmik yang menghancurkan. Al-Mukhtashar fī Tafsīr merangkum makna ayat ini dengan kalimat yang sangat indah: langit yang ditinggikan hingga menjadi atap yang terjaga di atas mereka, yang tidak jatuh menimpa mereka. Setiap pagi ketika manusia bangun dan membuka matanya, ada sebuah sistem yang bekerja tanpa terlihat untuk memastikan bahwa langit tetap di tempatnya, gravitasi tetap berfungsi, atmosfer tetap melindungi, dan matahari tetap berjarak yang tepat — tidak terlalu dekat untuk membakar, tidak terlalu jauh untuk membiarkan bumi membeku. Tidak ada insinyur yang merancang semua itu. Tidak ada operator yang memantaunya setiap detik. Ia berjalan karena amr Allah — perintah Allah yang ditulis ke dalam hukum-hukum alam yang bekerja dengan ketepatan yang tidak pernah meleset sejak hari pertama penciptaan. Dan semua itu tersedia untuk dilihat oleh siapapun yang mau mengangkat kepalanya dari layar gawainya sejenak dan menatap langit malam yang penuh bintang.
Kemudian gunung — wa ilā al-jibāli kayfa nushibat, dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Ibn Katsir menafsirkan ayat ini dengan menunjuk pada fungsi gunung sebagai awtād — pasak-pasak yang Allah tanamkan untuk menstabilkan bumi agar tidak bergoncang mengguncangkan para penghuninya. Ilmu geologi modern memverifikasi kebenaran ini dalam bahasa yang berbeda namun substansi yang sama: akar gunung yang menembus jauh ke dalam lapisan litosfer berfungsi sebagai penyeimbang yang mencegah pergerakan tektonik yang lebih ekstrem. Gunung juga adalah menara air raksasa — salju dan es yang tersimpan di puncaknya mencair perlahan sepanjang tahun, memberi pasokan air untuk sungai-sungai yang mengairi lembah-lembah dan kota-kota di bawahnya. Masyarakat Paninggahan yang kehidupannya bergantung pada air yang mengalir dari Bukit Barisan memahami — mungkin secara intuitif daripada secara ilmiah — apa yang ayat ini ajarkan: bahwa gunung bukan sekadar pemandangan yang indah untuk difoto, melainkan infrastruktur kehidupan yang Allah rancang dengan kepresisian yang tidak bisa ditiru oleh rekayasa manusia secanggih apapun.
Dan terakhir, bumi — wa ilā al-ardhi kayfa suthihat, dan bumi, bagaimana dihamparkan? Tafsir Kemenag merangkum makna ayat ini dengan sangat komprehensif: bumi yang dihamparkan sebagai tempat tinggal bagi manusia, dengan semua yang tersedia di atasnya — tanah yang subur, air yang mengalir, tumbuhan yang menghasilkan pangan, dan iklim yang memungkinkan kehidupan berlangsung dalam keseimbangan yang rapuh namun indah. Bumi yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, yang gravitasinya tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah, yang atmosfernya memiliki komposisi gas yang tepat untuk menopang kehidupan — semua itu bukan kebetulan yang terjadi dari ledakan kosmik yang acak. Ia adalah rancangan yang disengaja oleh Yang Maha Merancang, dan tanda-tandanya terbentang di setiap jengkal permukaan yang kita pijak setiap hari tanpa pernah bertanya bagaimana ia bisa ada.
Keempat ayat ini, dalam kesatuannya, adalah kurikulum yang tidak memerlukan ruang kelas atau papan tulis. Ia membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih langka di zaman ini: kesediaan untuk berhenti — dari kesibukan, dari layar, dari kebisingan pikiran yang tidak pernah diam — dan memperhatikan. Bagi pendidikan Islam yang hari ini bergulat dengan pertanyaan bagaimana menanamkan ma’rifatullah kepada generasi yang lebih akrab dengan notifikasi media sosial daripada dengan bintang di malam hari, jawaban yang ditawarkan oleh Syuraih Al-Qadi empat belas abad lalu masih belum usang: “Marilah kita keluar untuk melihat unta bagaimana ia diciptakan.” Atau dalam bahasa hari ini: marilah kita keluar, angkat kepala dari layar, tatap langit yang masih sama dengan langit yang ditafsirkan oleh Ibn Katsir, perhatikan gunung yang masih berdiri dengan cara yang sama seperti yang digambarkan dalam ayat ini, dan biarkan pertanyaan Allah yang paling lembut itu bekerja di dalam hati: affalā yanzhurūn — maka tidakkah mereka memperhatikan?
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, A. H. (2021). Ihyā’ ‘Ulūm Ad-Dīn (T. J. Faris, Ed. & Trans., Edisi revisi). Republika Penerbit.
Ibn Katsir, I. (2020). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Al-Mubarakfuri, Ed. ringkas). Pustaka Ibnu Katsir.
Nasr, S. H. (2015). Islam and the environmental crisis. Islamic Foundation.
Shihab, M. Q. (2020). Tafsir Al-Misbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (Jilid 15, Edisi baru). Lentera Hati.
Wan Daud, W. M. N. (2013). Filsafat dan praktik pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas (Hamid Fahmy, Trans.). Mizan.
Wahbah Al-Zuhayli. (2019). Tafsir Al-Munir (Jilid 15, Terjemahan Indonesia). Gema Insani.
