Alam Semesta sebagai Kitab yang Tidak Pernah Berhenti Berbicara: Argumen Rububiyah Said Nursi dalam Jendela Tauhid
Badiuzzaman Said Nursi menulis Jendela Tauhid dari dalam kondisi yang paling tidak kondusif untuk menulis tentang keindahan alam semesta: diasingkan, dikurung, dan diawasi oleh negara yang ingin membungkam suaranya. Namun justru dari dalam pengasingan itulah ia menghasilkan salah satu argumen kosmologis paling sistematis dan paling indah dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer — sebuah argumen yang tidak dimulai dari premis-premis abstrak filsafat melainkan dari pengamatan langsung terhadap kenyataan yang paling konkret: langit yang bergerak, bumi yang berganti musim, hewan yang terpelihara, dan tumbuhan yang berbunga. Jendela Keenam dalam Jendela Tauhid merupakan elaborasi mendalam atas QS. Al-Baqarah [2:164] — ayat yang merangkum enam fenomena kosmik sebagai āyāt bagi orang-orang yang berakal — dan Nursi membacanya bukan sebagai daftar bukti yang dingin melainkan sebagai simfoni yang setiap instrumennya memainkan melodi yang sama: rububiyah Allah yang sempurna, menyeluruh, dan tidak bisa dibagi-bagi. Tulisan ini berargumen bahwa argumen Nursi tentang rububiyah melalui empat jendela alam — langit, bumi, hewan, dan tumbuhan — bukan sekadar teologi natural dalam pengertian konvensional, melainkan sebuah metodologi epistemologis yang mengintegrasikan observasi saintifik dengan penghayatan spiritual, dan bahwa relevansinya bagi pendidikan Islam hari ini justru semakin besar di era ketika sains dan agama sering diperlakukan sebagai dua dunia yang tidak bisa berbicara satu sama lain.
Nursi memulai argumennya dari yang paling besar dan paling jauh dari jangkauan tangan manusia: langit dan pergerakan benda-benda angkasa. Namun cara ia mendekatinya sangat berbeda dari cara teolog abad pertengahan yang biasanya membangun argumen kosmologis dari premis-premis logika yang abstrak. Nursi secara eksplisit merujuk kepada ilmu falak — astronomi — sebagai saksi yang dihadirkan untuk memperkuat argumennya. Pergerakan benda-benda angkasa yang sangat teratur, yang tunduk pada hukum-hukum matematika dengan presisi yang membuat para astronom modern terkagum-kagum, bagi Nursi adalah kesaksian langsung tentang keberadaan Rabb yang Mahakuasa dan tentang keesaan rububiyah-Nya yang sempurna (Nursi, 2020). Yang membuat argumen ini bukan sekadar argument from design biasa adalah penambahan dimensi teleologis yang sangat khas Nursi: pergerakan kosmik itu bukan hanya teratur, melainkan terarah — ia bergerak “untuk mencapai tujuan-tujuan besar dan berbagai hasil yang mulia.” Bagi Nursi, tatanan bukan hanya bukti adanya Perancang; ia adalah bukti adanya Perancang yang peduli, yang memiliki tujuan, yang dalam bahasa teologi Islam disebut sebagai al-Hakīm — Yang Mahabijaksana. Perbedaan antara kedua klaim itu sangat fundamental: argument from design konvensional hanya sampai pada kesimpulan tentang adanya inteligensi yang merancang, sementara argumen Nursi melangkah lebih jauh ke kesimpulan tentang rububiyah — pemeliharaan aktif yang tidak hanya menciptakan melainkan terus-menerus mengatur, menjaga, dan mengarahkan setiap partikel ciptaan menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Dari langit yang jauh, Nursi menurunkan perhatiannya ke bumi yang paling dekat — transformasi musim, pergantian siklus, dan perubahan yang terus-menerus terjadi di permukaan bumi yang menjadi tempat tinggal manusia. Ilmu geografi, yang Nursi sebutkan secara eksplisit sebagai saksi dalam argumen ini, mendokumentasikan bagaimana rotasi dan revolusi bumi menciptakan empat musim yang masing-masingnya membawa kondisi yang dibutuhkan oleh kehidupan pada siklus yang berbeda. Tanah yang tampak mati di musim dingin bangkit kembali di musim semi; hujan yang turun di satu musim tersimpan dalam akuifer yang akan memancar sebagai mata air di musim kering; angin yang bertiup dari satu arah membawa kelembaban yang menghasilkan hujan di wilayah yang jauh dari lautan. Nursi membaca semua ini sebagai ekspresi dari rububiyah — bukan rububiyah yang pasif yang hanya menciptakan di awal lalu membiarkan, melainkan rububiyah yang aktif, yang terus-menerus hadir dalam setiap transformasi, yang dalam bahasa Al-Qur’an diungkapkan dalam ayat yang menjadi landasan Jendela Keenam ini: “wa mā anzalallāhu mina al-samā’i min mā’in fa-ahyā bihi al-ardha ba’da mawtihā” — dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu Ia hidupkan bumi dengannya setelah matinya. Kata ahyā — menghidupkan — adalah kata kerja yang mengandung kehadiran dan keterlibatan langsung, bukan hanya proses mekanistik yang berjalan sendiri. Allah tidak hanya menciptakan sistem hidrologi lalu meninggalkannya; Ia yang menghidupkan bumi melalui air itu, setiap musim, tanpa pernah berhenti.
Dimensi ketiga dari argumen Nursi adalah yang paling menyentuh dimensi rahmah dari rububiyah: seluruh hewan yang memenuhi daratan dan lautan, yang rezeki masing-masingnya dikirimkan melalui rahmat yang demikian luas. Perhatikan kata-kata yang Nursi pilih dengan sangat cermat: “dibungkus dengan pakaian yang beragam dan hikmah yang sempurna, lalu dilengkapi dengan indra yang beragam dan pemeliharaan yang sempurna.” Ini bukan deskripsi tentang sistem biologis yang berjalan secara otonom; ini adalah deskripsi tentang perhatian yang sangat personal dan sangat terperinci dari Rabb yang tidak hanya menciptakan spesies secara massal melainkan memperhatikan kebutuhan setiap individu makhluk-Nya. Burung yang bermigrasi ribuan kilometer dengan navigasi yang lebih presisi dari GPS buatan manusia, ikan yang mengetahui jalur kembali ke sungai tempat ia menetas, bayi mamalia yang lahir dengan insting untuk langsung mencari susu ibunya — semua itu bagi Nursi bukan sekadar keajaiban biologi yang mengagumkan. Ia adalah ekspresi dari rububiyah yang tidak pernah tidur, yang bahkan memperhatikan seekor burung pipit yang jatuh dari sarangnya, yang dalam hadis Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai Tuhan yang lebih dekat kepada makhluk-Nya dari urat leher mereka sendiri. Chittick (2019), dalam kajiannya tentang kosmologi tasawuf, menegaskan bahwa pemahaman ini adalah inti dari apa yang Ibn Arabi sebut sebagai al-faidh al-muqaddas — limpahan suci yang terus-menerus mengalir dari Allah kepada seluruh ciptaan-Nya tanpa henti dan tanpa pengecualian.
Sebagian kalangan mungkin berargumen bahwa pendekatan Nursi yang menggabungkan observasi saintifik (merujuk kepada ilmu falak dan geografi) dengan argumen teologis tentang rububiyah adalah pendekatan yang problematik secara epistemologis — bahwa sains beroperasi dalam domain yang berbeda dari teologi, dan bahwa mencampurkan keduanya berisiko menghasilkan god of the gaps — Allah yang dijadikan penjelasan untuk hal-hal yang belum bisa dijelaskan sains, namun yang posisinya akan tergusur seiring kemajuan sains. Keberatan ini adalah keberatan yang serius dan perlu direspons dengan kejujuran intelektual. Namun ia mengandaikan bahwa Nursi sedang membangun argumen jenis yang sama dengan god of the gaps — sebuah asumsi yang tidak akurat. Nursi tidak berargumen bahwa Allah menjelaskan bagaimana langit bergerak karena sains belum bisa menjelaskannya; ia berargumen bahwa fakta bahwa langit bergerak dengan keteraturan yang menghasilkan tujuan-tujuan mulia memerlukan penjelasan yang melampaui mekanisme fisik — penjelasan tentang mengapa ada keteraturan itu sama sekali, mengapa keteraturan itu menghasilkan kondisi yang memungkinkan kehidupan, dan mengapa seluruh sistem itu bergerak dengan cara yang tampak dirancang untuk memelihara makhluk-makhluk di dalamnya. Ini adalah pertanyaan yang, seperti yang diakui oleh fisikawan seperti Paul Davies dan ahli biologi seperti Francis Collins, tidak bisa dijawab oleh sains sendirian karena ia berada di luar domain sains (Davies, 2020). Nursi bukan mengisi celah dalam pengetahuan saintifik; ia mengidentifikasi dimensi realitas yang berada di luar jangkauan metodologi saintifik namun tidak di luar jangkauan akal yang jujur.
Dimensi keempat dan terakhir dari argumen Nursi — tumbuhan yang berbunga dan berbuah — adalah yang paling puitis namun tidak kalah substansialnya dari tiga sebelumnya. Setiap bunga yang mekar bagi Nursi adalah tanda (āyah) yang berbicara dalam dua bahasa sekaligus: bahasa keindahan yang berbicara kepada hati, dan bahasa argumen yang berbicara kepada akal. “Goresan yang ada pada setiap bunga” — variasi warna, bentuk, tekstur, dan aroma yang luar biasa — adalah manifestasi dari kreativitas Ilahi yang tidak pernah mengulang dirinya dengan cara yang persis sama. Setiap bunga mawar berbeda dari mawar yang lain; setiap pola pada kelopak bunga berbeda dari pola yang lain; setiap aroma yang dihasilkan oleh tumbuhan berbeda dari aroma yang lain. Keanekaragaman yang luar biasa ini bagi Nursi bukan kebetulan evolusioner yang tidak bermakna — ia adalah ekspresi dari sifat Allah Al-Musawwir (Yang Membentuk rupa) yang tidak pernah kehabisan kreativitas, dan Al-Jamīl (Yang Maha Indah) yang menuangkan keindahan-Nya ke dalam setiap ciptaan-Nya sebagai tanda kasih sayang yang tidak pernah habis.
Argumen rububiyah Said Nursi, dalam kesatuannya sebagai satu bangunan yang kokoh, adalah argumen yang bergerak dari luar ke dalam — dari yang paling besar (langit) ke yang paling kecil (bunga), dari yang paling jauh (benda-benda angkasa) ke yang paling dekat (tumbuhan di kebun), dan dari yang paling tampak (pergerakan bumi) ke yang paling halus (goresan pada kelopak bunga). Pergerakan itu sendiri adalah argumen: rububiyah yang dihadirkan Nursi bukan rububiyah yang hanya tampak di tempat-tempat dramatis dan spektakuler, melainkan rububiyah yang hadir secara merata dan konsisten di seluruh lapisan realitas tanpa terkecuali. Dan bagi pendidikan Islam yang sedang mencari cara untuk membangun ma’rifatullah yang hidup dan nyata — bukan sekadar hafalan doktrinal yang mati — metodologi Nursi adalah warisan yang paling relevan dan paling mendesak untuk dihidupkan kembali: ajarkan siswa untuk melihat langit dan bertanya tentang yang menopangnya, untuk memperhatikan musim dan bertanya tentang yang mengaturnya, untuk mengamati hewan dan bertanya tentang yang memeliharanya, dan untuk menyentuh bunga dan bertanya tentang yang merancang keindahannya. Karena seperti yang Nursi tunjukkan dari dalam bilik pengasingannya: alam semesta tidak pernah berhenti berbicara tentang Tuhannya. Yang perlu dibangun adalah telinga yang mau mendengarkan.
Daftar Pustaka
Chittick, W. C. (2019). The Sufi path of knowledge: Ibn al-‘Arabi’s metaphysics of imagination (Edisi baru). SUNY Press.
Davies, P. (2020). The mind of God: The scientific basis for a rational world (Edisi baru). Simon & Schuster.
Nasr, S. H. (2015). Islam and the environmental crisis. Islamic Foundation.
Nursi, B. S. (2020). Jendela tauhid (Terjemahan Indonesia, Edisi baru). Risalah Nur Press.
Shihab, M. Q. (2020). Tafsir Al-Misbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (Jilid 1, Edisi baru). Lentera Hati.
Wan Daud, W. M. N. (2013). Filsafat dan praktik pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas (Hamid Fahmy, Trans.). Mizan.
